Tugas Besar
1. Pendahuluan [kembali]
Banjir bandang merupakan bencana alam yang sering terjadi
secara tiba-tiba dan berdampak besar terhadap keselamatan jiwa serta kerusakan
infrastruktur. Di wilayah rawan seperti daerah lereng pegunungan dan aliran
sungai kecil yang curam, mitigasi bencana menjadi sangat penting. Untuk
mengatasi hal tersebut, dibutuhkan sistem deteksi dan kontrol dini yang andal
dan responsif. Salah satu pendekatan yang digunakan dalam pengembangan sistem
peringatan dini adalah penerapan rangkaian kontrol berbasis sensor. Dalam
tugas besar ini, dirancang suatu sistem kontrol banjir bandang yang terdiri
dari berbagai jenis sensor, yaitu sensor getar untuk mendeteksi potensi longsor
atau pergerakan tanah, sensor air untuk memantau tinggi muka air sungai, sensor
infrared untuk deteksi aliran cepat atau benda bergerak dalam air, sensor hujan
untuk mengukur intensitas curah hujan, serta sensor jarak untuk mengukur
perubahan jarak air terhadap permukaan atau struktur penghalang. Kombinasi dari
berbagai sensor ini memungkinkan sistem untuk mendeteksi potensi banjir secara
real-time dan memberikan sinyal peringatan sebelum bencana terjadi. Dengan
pemrosesan data yang tepat, sistem ini dapat meningkatkan efektivitas mitigasi
banjir bandang dan memberikan waktu evakuasi yang lebih cepat bagi masyarakat
terdampak.
2. Tujuan [kembali]
1. · Merancang sistem kontrol banjir bandang yang mampu mendeteksi potensi bencana secara dini menggunakan berbagai jenis sensor.
· Mengintegrasikan
sensor-sensor seperti sensor getar, sensor air, sensor infrared, sensor
hujan, dan sensor jarak ke dalam satu sistem pemantauan yang terpadu.
· Mendeteksi
perubahan lingkungan secara real-time, seperti peningkatan curah hujan, tinggi
muka air, getaran tanah, dan aliran deras yang menjadi indikator awal banjir
bandang.
· Memberikan
peringatan dini kepada masyarakat atau pihak terkait melalui sistem alarm
atau sinyal otomatis ketika parameter mencapai ambang batas bahaya.
· Meningkatkan
efektivitas mitigasi risiko bencana alam dengan menyediakan waktu reaksi
yang cukup untuk evakuasi atau pengamanan aset.
· Mengembangkan
sistem yang hemat energi dan efisien, sehingga dapat digunakan di daerah rawan
dengan keterbatasan infrastruktur listrik.
· Menguji dan mengevaluasi kinerja sistem kontrol melalui simulasi atau pengujian lapangan untuk memastikan keandalan dan akurasi deteksi.
3. Alat dan Bahan [kembali]
ALAT
a.) DC Voltmeter
DC Voltmeter merupakan alat yang digunakan untuk mengukur
besar tengangan pada suatu komponen. Cara pemakaiannya adalah dengan
memparalelkan kaki2 Voltmeter dengan komponen yang akan diuji tegangannya.
Berikut adalah Spesifikasi dan keterangan Probe DC
Volemeter
b.)
Baterai
Spesifikasi
- Input
voltage: ac 100~240v / dc 10~30v
- Output
voltage: dc 1~35v
- Max. Input
current: dc 14a
- Charging
current: 0.1~10a
- Discharging
current: 0.1~1.0a
- Balance
current: 1.5a/cell max
- Max.
Discharging power: 15w
- Max. Charging
power: ac 100w / dc 250w
- Jenis batre
yg didukung: life, lilon, lipo 1~6s, lihv 1-6s, pb 1-12s, nimh, cd 1-16s
- Ukuran:
126x115x49mm
- Berat: 460gr
BAHAN
a) Resistor
Resistor adalah komponen Elektronika Pasif yang memiliki
nilai resistansi atau hambatan tertentu yang berfungsi untuk membatasi dan
mengatur arus listrik dalam suatu rangkaian Elektronika (V=I R).
Jenis Resistor yang digunakan disini adalah Fixed
Resistor, dimana merupakan resistor dengan nilai tetap terdiri dari film
tipis karbon yang diendapkan subtrat isolator kemudian dipotong berbentuk
spiral. Keuntungan jenis fixed resistor ini dapat menghasilkan resistor dengan
toleransi yang lebih rendah.
Cara menghitung nilai resistor:
Tabel warna
Contoh
:
Gelang
ke 1 : Coklat = 1
Gelang
ke 2 : Hitam = 0
Gelang
ke 3 : Hijau = 5 nol dibelakang angka gelang ke-2; atau kalikan 105
Gelang ke 4 : Perak = Toleransi 10%
Maka nilai resistor tersebut adalah 10 * 105 = 1.000.000
Ohm atau 1 MOhm dengan toleransi 10%.
Spesifikasi
b. Dioda
Untuk menghantarkan arus listrik ke satu arah tetapi
menghambat arus listrik dari arah sebaliknya. Oleh karena itu, Dioda sering
dipergunakan sebagai penyearah dalam Rangkaian Elektronika. Dioda pada umumnya
mempunyai 2 Elektroda (terminal) yaitu Anoda (+) dan Katoda (-) dan memiliki
prinsip kerja yang berdasarkan teknologi pertemuan p-n semikonduktor yaitu
dapat mengalirkan arus dari sisi tipe-p (Anoda) menuju ke sisi tipe-n (Katoda)
tetapi tidak dapat mengalirkan arus ke arah sebaliknya.
c. Transistor
Merupakan transistor tipe NPN yang digunakan untuk
switching agar mengaktifkan kontak relay dan relay tersebut akan memberikan
kontak pada motor DC dan output lainnya.
Spesifikasi
:
- Bi-Polar
Transistor
- DC Current
Gain (hFE) is 800 maximum
- Continuous
Collector current (IC) is 100mA
- Emitter Base
Voltage (VBE) is > 0.6V
- Base
Current(IB) is 5mA maximum
d. OP
-AMP
Konfigurasi
PIN LM741
Spesifikasi:
Op-Amp
adalah salah satu dari bentuk IC Linear yang berfungsi sebagai Penguat Sinyal
listrik. Sebuah Op-Amp
terdiri dari beberapa Transistor, Dioda, Resistor dan Kapasitor yang
terinterkoneksi dan terintegrasi sehingga memungkinkannya untuk menghasilkan
Gain (penguatan) yang tinggi pada rentang frekuensi yang luas. Dalam
bahasa Indonesia, Op-Amp atau Operational Amplifier sering disebut juga dengan
Penguat Operasional.
Komponen
Input
a. Button
Button adalah saklar tekan yang berfungsi sebagai pemutus atau penyambung arus
listrik dari sumber arus ke beban listrik.
Technical
Specifications
- Mode of
Operation: Tactile feedback
- Power Rating:
MAX 50mA 24V DC
- Insulation
Resistance: 100Mohm at 100v
- Operating
Force: 2.55±0.69 N
- Contact
Resistance: MAX 100mOhm
- Operating
Temperature Range: -20 to +70
- Storage Temperature Range: -20 to +70 ℃
b. Logic
state
Gerbang
Logika (Logic Gates) adalah sebuah entitas untuk melakukan pengolahan
input-input yang berupa bilangan biner (hanya terdapat 2 kode bilangan biner
yaitu, angka 1 dan 0) dengan menggunakan Teori Matematika Boolean sehingga
dihasilkan sebuah sinyal output yang dapat digunakan untuk proses berikutnya.
Pinout
c.
Water Level Sensor
Water
level sensor berfungsi untuk mendeteksi ketinggian air.
Konfigurasi
pin water level sensor
"S"
stand for signal input
"+"
stand for power supply
"-"
stand for GND
Spesifikasi
water level sensor
1. Tegangan kerja: 5V
2. Bekerja Saat Ini: <20ma br=""> 3.
Antarmuka: Analog
4. Lebar deteksi: 40mm × 16mm
5. Suhu Kerja: 10 ℃ ~ 30 ℃
6. Berat: 3g
7. Ukuran: 65mm × 20mm × 8mm
8. Antarmuka yang kompatibel dengan Arduino
9. Konsumsi daya rendah
10. Sensitivitas tinggi
11. Sinyal tegangan keluaran: 0 ~ 4.2V
Aplikasi water level sensor
1.
Mendeteksi curah hujan Rainfall detecting
2.
Kebocoran cairan
3.
Kepenuhan tank air
Grafik
respon water level sensor
d.Rain
Sensor
Rain sensor berfungsi untuk mendeteksi kebocoran dari
tank air.
Konfigurasi
pin rain sensor
Spesifikasi rain sensor
1. Konsumsi daya sangat sedikit
2. Sensor ini bermaterial dari FR-04 dengan dimensi 5cm x
4cm berlapis nikel dan dengan kualitas tinggi pada kedua sisinya
3. Pada lapisan module mempunyai sifat anti oksidasi
sehingga tahan terhadap korosi
4. Tegangan kerja masukan sensor 3.3V – 5V
5. Menggunakan IC comparator LM393 yang stabil
6. Output dari modul comparator dengan kualitas sinyal
bagus lebih dari 15mA
7. Dilengkapi lubang baut untuk instalasi dengan modul
lainnya
8. Terdapat potensiometer yang berfungsi untuk mengatur
sensitifitas sensor
9. Terdapat 2 Output yaitu digital (0 dan 1) dan analog
(tegangan)
10. Dimensi PCB yaitu 3.2 cm x 1.4 cm
Grafik
respon rain sensor
e.Sensor
GP2D120
Sensor infrared ranger Sharp GP2D120 memiliki kemampuan
membaca jarak 4-30 cm. Namun,
hasil konversi A/D tidak linier. Artinya, tegangan output sensor tidak
berbanding lurus dengan jarak hasil pengukuran.
Spesifikasi :
Nama lengkap: Sharp GP2D120 Analog Distance Sensor
Tipe
sensor: Sensor jarak inframerah (Infrared
Proximity Sensor)
Jarak
deteksi:
- Minimum: 4
cm
- Maksimum: 30
cm
Tegangan
kerja: 4.5V – 5.5V DC
Output:
- Analog voltage (tegangan berubah tergantung jarak)
- Output non-linear terhadap
jarak objek
Konsumsi arus: Sekitar 30 mA
Waktu respons: Sekitar 39 ms
Sudut deteksi: Sekitar ±5°
Tegangan output maksimum: Sekitar 2.6V (saat objek sangat
dekat)
Tegangan output minimum: Sekitar 0.4V (saat objek jauh,
sekitar 30 cm)
Antarmuka: Analog, dapat dibaca langsung oleh ADC mikrokontroler (misalnya
Arduino, STM32, dsb.)
f. Sensor
Infrared
Sensor Infrared merupakan komponen elektronika yang dapat
mendeteksi benda ketika cahaya infra merah terhalangi oleh benda. Ketika tidak
ada benda yang menghalangi sinar inframerah, sensor akan berada dalam logika
"0". Sebaliknya, ketika ada benda yang menghalangi sinar inframerah,
sensor akan beralih ke logika "1". Sensor infared terdiri dari led
infrared sebagai pemancar yang akan mengirimkan sinyal inframerah. Pada bagian
penerima sensor inframerah, biasanya terdapat foto transistor, fotodioda, atau
modul inframerah yang berfungsi untuk menerima sinar inframerah yang dikirimkan
oleh pemancar.
Spesifikasi
sensor infrared:
g.
Sensor Vibration
Sensor getaran adalah suatu alat yang berfungsi untuk mendeteksi
adanya getaran dan mengubahnya menjadi sinyal listrik. Sensor ini juga dikenal
sebagai sensor casings measurement. Salah satu jenis sensor getaran yang umum
digunakan adalah seismic transducer, yang dapat mengukur baik kecepatan
(velocity) maupun percepatan (acceleration) getaran.
Dalam konteks logika elektronik,
sensor getaran dapat diinterpretasikan sebagai berikut: ketika tidak ada
getaran yang terdeteksi, sensor akan menghasilkan sinyal listrik yang
mengindikasikan keadaan "tidak aktif" atau "0". Sebaliknya,
ketika sensor mendeteksi adanya getaran, maka sinyal listrik yang dihasilkannya
akan mengindikasikan keadaan "aktif" atau "1".
Spesifikasi
sensor vibration:
h. Potensiometer
Komponen Output
a.
Buzzer
Buzzer adalah sebuah komponen elektronika yang berfungsi untuk mengubah getaran
listrik menjadi getaran suara. Buzzer biasa digunakan sebagai indikator bahwa
proses telah selesai atau terjadi suatu kesalahan pada sebuah alat (alarm).
b.
LED-red dan LED-yellow
Light Emitting Diode atau sering disingkat dengan LED
adalah komponen elektronika yang dapat memancarkan cahaya monokromatik
ketika diberikan tegangan maju. Cara kerjanya pun hampir sama dengan
Dioda yang memiliki dua kutub yaitu kutub Positif (P) dan Kutub Negatif (N).
LED hanya akan memancarkan cahaya apabila dialiri tegangan maju (bias forward)
dari Anoda menuju ke Katoda.
LED
terdiri dari sebuah chip semikonduktor yang di doping sehingga menciptakan
junction P dan N.
c. Motor
Motor Listrik DC atau DC Motor adalah suatu perangkat
yang mengubah energi listrik menjadi energi kinetik atau gerakan (motion).
Motor DC ini juga dapat disebut sebagai Motor Arus Searah. Seperti namanya, DC
Motor memiliki dua terminal dan memerlukan tegangan arus searah atau DC (Direct
Current) untuk dapat menggerakannya. Motor Listrik DC ini biasanya digunakan
pada perangkat-perangkat Elektronik dan listrik yang menggunakan sumber listrik
DC seperti Vibrator Ponsel, Kipas DC dan Bor Listrik DC.
Spesifikasi
Pinout
d.
Relay
Spesifikasi
Relay
umumnya adalah tegangan input 5 VDC, 12 VDC atau 48 VDC. Untuk common dan NO NC
umumnya 220 vac dengan arus kerja 10 A.
- Konfigurasi
pin Relay dihubungkan ke 5V
- GND
dihubungkan ke GND
- IN1/Data
dihubungkan ke pin 2
Pinout
4. Dasar Teori [kembali]
1.Battery
Baterai (Battery) adalah
sebuah alat yang dapat merubah energi kimia yang disimpannya menjadi energi
Listrik yang dapat digunakan oleh suatu perangkat Elektronik. Hampir semua
perangkat elektronik yang portabel seperti Handphone, Laptop, Senter, ataupun
Remote Control menggunakan Baterai sebagai sumber listriknya. Dengan adanya
Baterai, kita tidak perlu menyambungkan kabel listrik untuk dapat mengaktifkan
perangkat elektronik kita sehingga dapat dengan mudah dibawa kemana-mana. Dalam
kehidupan kita sehari-hari, kita dapat menemui dua jenis Baterai yaitu Baterai
yang hanya dapat dipakai sekali saja (Single Use) dan Baterai yang dapat di isi
ulang (Rechargeable).
Baterai dalam
sistem PV mengalami berulang kali siklus pengisian dan pengosongan selama umur
pakainya. Siklus hidup (cycle life) baterai adalah banyaknya pengisian
dan pengosongan hingga kapasitas baterai turun (melemah) dan tersisa 80% dari
kapasitas nominalnya. Pabrik baterai biasanya mencantumkan siklus hidup pada
spesifikasi teknis baterai. Mencantumkan satu nilai siklus hidup (cycle life)
sebenarnya terlalu menyederhanakan informasi, karena siklus hidup baterai juga
tergantung pada suhu baterai.
Dari grafik di
atas, terlihat pada suhu operasional baterai yang lebih rendah, siklus hidup
baterai lebih lama. Siklus hidup baterai juga tergantung dari DoD, artinya
baterai yang dikosongkan hanya 50% dari kapasitasnya, berumur lebih lama jika
dikosongkan hingga 80%, namun membuat sistem menjadi lebih mahal, karena
membutuhkan kapasitas baterai lebih besar untuk mengakomodasi kebutuhan yang
sama.
Jika pada suhu operasional lebih
rendah, umur baterai lebih lama, namun ada efek negatif berkaitan dengan
kapasitas baterai. Pada suhu yang lebih rendah, kapasitas baterai menjadi
lebih rendah. Hal ini disebabkan karena pada suhu yang lebih tinggi, reaksi
kimia yang terjadi pada baterai bergerak lebih aktif/cepat, sehingga kapasitas
baterai cenderung lebih tinggi.
Terkadang, pada suhu yang lebih
tinggi, kapasitas baterai justru dapat lebih besar dari angka nominalnya,
meskipun pada suhu tinggi, elemen baterai terlalu aktif, juga berakibat buruk
pada kesehatan baterai.
2. Relay
Relay
adalah suatu peranti yang bekerja berdasarkan elektromagnetik untuk menggerakan
sejumlah kontaktor yang tersusun atau sebuah saklar elektronis yang dapat
dikendalikan dari rangkaian elektronik lainnya dengan memanfaatkan tenaga
listrik sebagai sumber energinya. Kontaktor akan tertutup (menyala) atau terbuka (mati) karena efek induksi
magnet yang dihasilkan kumparan (induktor) ketika dialiri arus listrik. Berbeda
dengan saklar, pergerakan kontaktor (on atau off) dilakukan manual tanpa perlu
arus listrik.
Kapasitas Pengalihan Maksimum:
3.
LED
Light Emitting Diode atau sering disingkat dengan LED
adalah komponen elektronika yang dapat memancarkan cahaya monokromatik
ketika diberikan tegangan maju. LED merupakan keluarga Dioda yang terbuat dari
bahan semikonduktor. Warna-warna Cahaya yang dipancarkan oleh LED tergantung
pada jenis bahan semikonduktor yang dipergunakannya. LED juga dapat memancarkan
sinar inframerah yang tidak tampak oleh mata seperti yang sering kita jumpai
pada Remote Control TV ataupun Remote Control perangkat elektronik lainnya.
Tabel.
Warna dan Material LED
|
Warna |
Panjanggelombang [nm] |
Material semikonduktor |
|
|
λ > 760 |
Gallium
arsenide (GaAs)Aluminium gallium arsenide (AlGaAs) |
||
|
610 < λ <
760 |
Aluminium gallium
arsenide (AlGaAs)Gallium arsenide phosphide (GaAsP)Aluminium
gallium indium phosphide (AlGaInP)Gallium(III) phosphide (GaP) |
||
|
590 < λ <
610 |
Gallium arsenide
phosphide (GaAsP)Aluminium gallium indium
phosphide (AlGaInP)Gallium(III) phosphide (GaP) |
||
|
570 < λ <
590 |
Gallium arsenide
phosphide (GaAsP)Aluminium gallium indium
phosphide (AlGaInP)Gallium(III) phosphide (GaP) |
||
|
500 < λ <
570 |
Indium gallium
nitride (InGaN) / Gallium(III) nitride (GaN)Gallium(III)
phosphide (GaP)Aluminium gallium indium
phosphide (AlGaInP)Aluminium gallium phosphide (AlGaP) |
||
|
450 < λ <
500 |
Zinc
selenide (ZnSe)Indium gallium nitride (InGaN) |
||
|
400 < λ <
450 |
Indium gallium
nitride (InGaN) |
||
|
multiple types |
Dual blue/red
LEDs, |
||
|
λ < 400 |
Diamond (235 nm) Boron
nitride (215 nm) Aluminium nitride (AlN)
(210 nm) Aluminium gallium nitride (AlGaN)Aluminium gallium indium nitride (AlGaInN) –
(down to 210 nm) |
||
|
multiple types |
Blue with one or
two phosphor layers: |
||
|
White |
Broad spectrum |
Blue/UV diode with
yellow phosphor |
4. Motor
Motor listrik adalah alat
untuk mengubah energi listrik menjadi energi mekanik. Alat yang
berfungsi sebaliknya, mengubah energi mekanik menjadi energi listrik
disebut generator atau dinamo. Motor listrik dapat ditemukan
pada peralatan rumah tangga seperti kipas angin, mesin
cuci, pompa air dan penyedot debu
5.Resistor
Resistor adalah komponen Elektronika Pasif yang memiliki
nilai resistansi atau hambatan tertentu yang berfungsi untuk membatasi dan
mengatur arus listrik dalam suatu rangkaian Elektronika (V=I R).
Jenis Resistor yang digunakan disini adalah Fixed
Resistor, dimana merupakan resistor dengan nilai tetap terdiri dari film
tipis karbon yang diendapkan subtrat isolator kemudian dipotong berbentuk
spiral. Keuntungan jenis fixed resistor ini dapat menghasilkan resistor dengan
toleransi yang lebih rendah.
Cara menghitung nilai resistor:
Tabel warna
Contoh
:
Gelang
ke 1 : Coklat = 1
Gelang
ke 2 : Hitam = 0
Gelang
ke 3 : Hijau = 5 nol dibelakang angka gelang ke-2; atau kalikan 105
Gelang ke 4 : Perak = Toleransi 10%
Maka nilai resistor tersebut adalah 10 * 105 = 1.000.000
Ohm atau 1 MOhm dengan toleransi 10%.
Spesifikasi
6.Dioda
Untuk menghantarkan arus listrik ke satu arah tetapi
menghambat arus listrik dari arah sebaliknya. Oleh karena itu, Dioda sering
dipergunakan sebagai penyearah dalam Rangkaian Elektronika. Dioda pada umumnya
mempunyai 2 Elektroda (terminal) yaitu Anoda (+) dan Katoda (-) dan memiliki
prinsip kerja yang berdasarkan teknologi pertemuan p-n semikonduktor yaitu
dapat mengalirkan arus dari sisi tipe-p (Anoda) menuju ke sisi tipe-n (Katoda)
tetapi tidak dapat mengalirkan arus ke arah sebaliknya.
7.
Transistor NPN
Pinout:
Transistor merupakan salah satu Komponen Elektronika
Aktif yang paling sering digunakan dalam rangkaian Elektronika, baik rangkaian
Elektronika yang paling sederhana maupun rangkaian Elektronika yang rumit dan
kompleks. Transistor pada umumnya terbuat dari bahan semikonduktor seperti
Germanium, Silikon, dan Gallium Arsenide.
Transistor adalah sebuah komponen di dalam elektronika
yang diciptakan dari bahan-bahan semikonduktor dan memiliki tiga buah kaki. Masing-masing
kaki disebut sebagai basis, kolektor, dan emitor.
- Emitor (E) memiliki fungsi untuk menghasilkan
elektron atau muatan negatif.
- Kolektor (C) berperan sebagai saluran bagi muatan
negatif untuk keluar dari dalam transistor.
- Basis (B) berguna untuk mengatur arah gerak muatan
negatif yang keluar dari transistor melalui kolekto
Berfungsi sebagai penguat, sebagai sirkuit pemutus dan
penyambung arus (switching), stabilisasi tegangan, dan modulasi
sinyal. Selain itu, transistor biasanya juga dapat digunakan sebagai
saklar dalam rangkaian elektronika. Jika ada arus yang cukup besar di kaki
basis, transistor akan mencapai titik jenuh. Pada titik jenuh ini transistor
mengalirkan arus secara maksimum dari kolektor ke emitor sehingga transistor
seolah-olah short pada hubungan kolektor-emitor. Jika arus base sangat kecil
maka kolektor dan emitor bagaikan saklar yang terbuka. Pada kondisi ini
transistor dalam keadaan cut off sehingga tidak ada arus dari kolektor ke
emitor.
Rumus-rumus
transistor:
Konfigurasi
Transistor:
Konfigurasi
Common Base adalah konfigurasi yang kaki Basis-nya di-ground-kan dan digunakan
bersama untuk INPUT maupun OUTPUT. Pada Konfigurasi Common Base, sinyal INPUT dimasukan ke Emitor dan
sinyal OUTPUT-nya diambil dari Kolektor, sedangkan kaki Basis-nya
di-ground-kan. Oleh karena itu, Common Base juga sering disebut dengan istilah
“Grounded Base”. Konfigurasi Common Base ini menghasilkan Penguatan Tegangan
antara sinyal INPUT dan sinyal OUTPUT namun tidak menghasilkan penguatan pada
arus.
Konfigurasi Common Collector (CC) atau Kolektor Bersama
memiliki sifat dan fungsi yang berlawan dengan Common Base (Basis Bersama).
Kalau pada Common Base menghasilkan penguatan Tegangan tanpa memperkuat Arus,
maka Common Collector ini memiliki fungsi yang dapat menghasilkan
Penguatan Arus namun tidak menghasilkan penguatan Tegangan. Pada
Konfigurasi Common Collector, Input diumpankan ke Basis Transistor sedangkan
Outputnya diperoleh dari Emitor Transistor sedangkan Kolektor-nya di-ground-kan
dan digunakan bersama untuk INPUT maupun OUTPUT. Konfigurasi Kolektor bersama
(Common Collector) ini sering disebut juga dengan Pengikut Emitor (Emitter
Follower) karena tegangan sinyal Output pada Emitor hampir sama dengan tegangan
Input Basis.
Konfigurasi Common Emitter (CE) atau Emitor Bersama
merupakan Konfigurasi Transistor yang paling sering digunakan, terutama pada
penguat yang membutuhkan penguatan Tegangan dan Arus secara bersamaan. Hal ini
dikarenakan Konfigurasi Transistor dengan Common Emitter ini menghasilkan
penguatan Tegangan dan Arus antara sinyal Input dan sinyal Output. Common
Emitter adalah konfigurasi Transistor dimana kaki Emitor Transistor
di-ground-kan dan dipergunakan bersama untuk INPUT dan OUTPUT. Pada Konfigurasi
Common Emitter ini, sinyal INPUT dimasukan ke Basis dan sinyal OUTPUT-nya
diperoleh dari kaki Kolektor.
Karakteristik Input
Transistor adalah komponen aktif yang menggunakan aliran
electron sebagai prinsip kerjanya didalam bahan. Sebuah transistor memiliki
tiga daerah doped yaitu daerah emitter, daerah basis dan daerah disebut
kolektor. Transistor ada dua jenis yaitu NPN dan PNP. Transistor memiliki dua
sambungan: satu antara emitter dan basis, dan yang lain antara kolektor dan
basis. Karena itu, sebuah transistor seperti dua buah dioda yang saling
bertolak belakang yaitu dioda emitter-basis, atau disingkat dengan emitter dioda
dan dioda kolektor-basis, atau disingkat dengan dioda kolektor.
Bagian emitter-basis dari transistor merupakan dioda,
maka apabila dioda emitter-basis dibias maju maka kita mengharapkan akan
melihat grafik arus terhadap tegangan dioda biasa. Saat tegangan dioda
emitter-basis lebih kecil dari potensial barriernya, maka arus basis (Ib) akan
kecil. Ketika tegangan dioda melebihi potensial barriernya, arus basis (Ib)
akan naik secara cepat.
Pemberian bias
Ada beberapa macam
rangkaian pemberian bias, yaitu:
Sebuah
transistor memiliki empat daerah operasi yang berbeda yaitu daerah aktif,
daerah saturasi, daerah cutoff, dan daerah breakdown. Jika transistor digunakan sebagai penguat, transistor
bekerja pada daerah aktif. Jika transistor digunakan pada rangkaian digital,
transistor biasanya beroperasi pada daerah saturasi dan cutoff. Daerah
breakdown biasanya dihindari karena resiko transistor menjadi hancur terlalu
besar.
8. Transistor PNP
Pin
Out :
Karakteristik
Transistor
PNP adalah salah satu jenis transistor bipolar (Bipolar Junction
Transistor/BJT) yang terdiri dari dua lapisan semikonduktor tipe-P yang
mengapit satu lapisan semikonduktor tipe-N. Ketiga terminal pada transistor PNP
disebut emitter (E), base (B), dan collector (C). Pada transistor jenis ini, arus utama mengalir dari
emitter ke collector, dan arus basis mengalir ke luar dari terminal basis,
berlawanan arah dengan arus pada transistor NPN. Transistor PNP aktif (ON) jika
tegangan basis lebih rendah dari tegangan emitter sekitar 0,7 volt. Dalam
kondisi ini, junction emitter-base dalam keadaan forward bias, sedangkan
junction collector-base reverse bias, memungkinkan aliran arus dari emitter ke
collector. Transistor PNP sering digunakan dalam konfigurasi rangkaian sebagai saklar
atau penguat, tergantung pada kebutuhan aplikasi. Salah satu keunggulan
transistor PNP adalah kemampuannya untuk mengalirkan arus saat sinyal kontrol
pada basis berada pada level tegangan yang lebih rendah dari emitter, yang
berguna dalam sistem dengan logika tegangan negatif atau untuk mengontrol beban
yang terhubung ke sisi positif catu daya.
9. Relay
Relay merupakan komponen elektronika berupa saklar atau
swirch elektrik yang dioperasikan secara listrik dan terdiri dari 2 bagian
utama yaitu Elektromagnet (coil) dan mekanikal (seperangkat
kontak Saklar/Switch). Komponen elektronika ini menggunakan prinsip
elektromagnetik untuk menggerakan saklar sehingga dengan arus listrik yang
kecil (low power) dapat menghantarkan listrik yang bertegangan lebih
tinggi. Berikut adalah simbol dari komponen relay.
Pada dasarnya, Relay terdiri dari 4 komponen dasar
yaitu :
- Electromagnet
(Coil)
- Armature
- Switch
Contact Point (Saklar)
- Spring
Gambar
dari bagian-bagian relay
Kontak
Poin (Contact Point) Relay terdiri dari 2 jenis yaitu :
- Normally Close (NC) yaitu kondisi awal sebelum diaktifkan akan selalu berada di posisi CLOSE (tertutup)
- Normally Open (NO) yaitu kondisi awal sebelum diaktifkan akan selalu berada di posisi OPEN (terbuka)
Konfigurasi:
10.Op
Amp
Op-Amp adalah salah satu dari bentuk IC Linear yang berfungsi sebagai Penguat Sinyal listrik. Sebuah Op-Amp terdiri dari beberapa Transistor, Dioda, Resistor dan Kapasitor yang terinterkoneksi dan terintegrasi sehingga memungkinkannya untuk menghasilkan Gain (penguatan) yang tinggi pada rentang frekuensi yang luas.
Simbol
Konfigurasi
pin:
Karakteristik
IC OpAmp
- Penguatan Tegangan Open-loop atau Av = ∞ (tak
terhingga)
- Tegangan
Offset Keluaran (Output Offset Voltage) atau Voo = 0 (nol)
- Impedansi
Masukan (Input Impedance) atau Zin= ∞ (tak terhingga)
- Impedansi
Output (Output Impedance ) atau Zout = 0 (nol)
- Lebar Pita (Bandwidth) atau BW = ∞ (tak terhingga)
- Karakteristik
tidak berubah dengan suhu
Voltage Follower
Detektor Non Inverting
Rangkaian detektor non inverting dengan tegangan
input Vi berupa gelombang segitiga dan tegangan referensi Vref > 0 Volt
adalah seperti gambar 78.
Dengan menggunakan persamaan (1) maka Vi = V1 dan
+Vref = V2 sehingga bentuk gelombang tegangan output Vo ( V o (max)
= ± V sat = (V1-V2)) dengan simulasi multisim adalah seperti gambar
79
Detektor
Inverting
Rumus:
Komparator
Rumus:
Differential
Amplifier
Rumus:
Bentuk Gelombang
11.Sensor
Infrared
Sensor Infrared adalah komponen elektronika yang dapat
mendeteksi benda ketika cahaya infra merah terhalangi oleh benda. Sensor
infared terdiri dari led infrared sebagai pemancar sedangkan pada bagian
penerima biasanya terdapat foto transistor, fotodioda, atau inframerah modul
yang berfungsi untuk menerima sinar inframerah yang dikirimkan oleh pemancar.
Prinsip
Kerja Sensor Infrared
Ilustrasi prinsip kerja sensor infrared
Grafik Respon Sensor Infrared
Gambar 4. Grafik respon sensor infrared
Grafik menunjukkan hubungan antara resistansi dan jarak
potensial untuk sensitivitas rentang antara pemancar dan penerima inframerah.
Resistor yang digunakan pada sensor mempengaruhi intensitas cahaya inframerah
keluar dari pemancar. Semakin tinggi resistansi yang digunakan, semakin pendek
jarak IR Receiver yang mampu mendeteksi sinar IR yang dipancarkan dari IR
Transmitter karena intensitas cahaya yang lebih rendah dari IR Transmitter.
Sementara semakin rendah resistansi yang digunakan, semakin jauh jarak IR
Receiver mampu mendeteksi sinar IR yang dipancarkan dari IR Transmitter karena
intensitas cahaya yang lebih tinggi dari IR Transmitter.
12.
Sensor Jarak GP2D120
Penggunaan sensor GP2D12 ini tidak ada
perlakuan khusus dalam proses pembacaannya, sehingga apabila ada
mikrokontroler yang sudah terdapat ADC (Seperti Atmega8535) di dalam maka
sensor jarak ini tinggal dihubungkan dan dibaca tegangan keluarannya. ATmega8535 merupakan salah satu jenis dari mikrokontroler
AVR buatan ATMEL yang mempunyai 8 channel ADC (Analog to Digital Converter)
dengan resolusi 10bit. Maksudnya adalah mikrokontroler ini mampu untuk
diberi masukan tegangan analog sampai 8 saluran secara bersamaan dengan
ketelitian sampai 10 bit, sehingga pemakaian sensor jarak GP2D12 pada
mikrokontroler ini maksimal adalah 8 buah.
Adapun prinsip kerja sensor sharp GP2D12 ini menggunakan prinsip pantulan sinar infra merah. Dalam aplikasi ini nilai tegangan keluran dari sensor yang berbanding terbalik dengan hasil pembacaan jarak dikomparasi dengan tegangan referensi komparator. Prinsip kerja dari rangkaian komparator sensor sharp GP2D12 adalah jika sensor mengeluarkan tegangan melebihi tegangan referensi, maka keluaran dari komparator akan berlogika rendah. Jika tegangan referensi lebih besar dari tegangan sensor maka keluaran dari komparator akan berlogika tinggi. Selain menggunakan komparator, untuk mengakases sensor jarak sharp GP2D12 dapat dengan menggunakan prinsip ADC, atau dengan kata lain mengolah sinyal analog dari pembacaan sensor sharp GP2D12 ke bentuk digital dengan bantuan pemrograman.
GP2D12 (Infrared Range Detector) adalah sensor jarak yang berbasikan infra red, sensor ini dapat mendeteksi obyek dengan jarak 8 sampai 80 cm. Output dari GP2D12 adalah berupa tegangan analog. Agar GP2D12 dapat berhubungan dengan mikrokontroller di perlukan ADC ( Analog to Digital conventer ) yang berfungsi untuk mengkonversi output dari GP2D12 yang berupa analog menjadi digital.
Grafik respon sensor GP2D12:
Sensor GP2D120 adalah
sensor jarak berbasis inframerah (infrared distance sensor) buatan
Sharp yang digunakan untuk mengukur jarak objek dari sensor dengan prinsip
pantulan cahaya inframerah.
Sensor ini sangat populer dalam proyek robotik dan sistem
otomatisasi karena dapat mendeteksi objek pada rentang jarak 4 cm
hingga 30 cm dengan output analog yang proporsional terhadap jarak.
- Sensor GP2D120 menggunakan metode trigonometri
pantulan cahaya inframerah (triangulasi optik).
- Modul memancarkan sinar inframerah melalui LED IR.
- Sinar inframerah akan dipantulkan kembali oleh objek
yang berada di depannya.
- Pantulan ini diterima oleh photodiode array yang
menghasilkan tegangan analog (VO) sesuai sudut dan posisi
pantulan.
- Semakin dekat objek, semakin tinggi tegangan keluarannya,
namun hubungan antara jarak dan tegangan tidak linear.
13.Water
Sensor
Water
Sensor WATER2 digunakan untuk mendeteksi adanya air atau mengukur ketinggian
air secara sederhana. Sensor ini bekerja berdasarkan prinsip konduktivitas
listrik air, sehingga ketika air menyentuh jalur konduktif pada
sensor, maka akan terjadi perubahan resistansi yang menghasilkan sinyal
listrik.
Sensor ini terdiri dari serangkaian jalur
konduktif paralel yang terbuka di permukaannya. Ketika air berada di
antara jalur-jalur tersebut, ia menjadi media penghantar arus listrik, sehingga
memungkinkan arus mengalir antara jalur positif dan negatif. Semakin tinggi
tingkat air, semakin banyak jalur yang terhubung oleh air, dan semakin besar
pula sinyal yang terbaca oleh sistem.
Sensor ini biasanya terhubung dengan komparator (seperti
IC LM393) yang mengubah sinyal analog menjadi sinyal digital (HIGH atau LOW),
tergantung dari ambang batas yang telah ditentukan.
Komponen
Utama
- Jejak
Konduktif (Copper Traces)
- Berfungsi sebagai elektroda untuk mendeteksi air.
- Semakin banyak jejak yang terkena air, semakin
besar sinyal keluarannya.
- Komparator
(IC LM393)
- Menganalisis tegangan dari jejak konduktif dan
membandingkan dengan ambang batas.
- Mengubah sinyal analog menjadi digital (1 atau 0).
- Potensiometer
(Variable Resistor)
- Mengatur
sensitivitas sensor terhadap jumlah air yang terdeteksi.
- LED Indikator
- Memberikan sinyal visual (biasanya menyala saat air
terdeteksi).
- Pin Output
(OUT, GND, VCC)
- VCC: Tegangan kerja (biasanya 3.3V – 5V).
- GND:
Ground.
- OUT:
Output sinyal digital ke mikrokontroler.
"S"
stand for signal input
"+"
stand for power supply
"-"
stand for GND
Spesifikasi
water level sensor
1.
Tegangan kerja: 5V
2. Bekerja Saat Ini: <20ma br=""> 3.
Antarmuka: Analog
4. Lebar deteksi: 40mm × 16mm
5. Suhu Kerja: 10 ℃ ~ 30 ℃
6. Berat: 3g
7. Ukuran: 65mm × 20mm × 8mm
8. Antarmuka yang kompatibel dengan Arduino
9. Konsumsi daya rendah
10. Sensitivitas tinggi
11. Sinyal tegangan keluaran: 0 ~ 4.2V
Aplikasi
water level sensor
1.
Mendeteksi curah hujan Rainfall detecting
2.
Kebocoran cairan
3. Kepenuhan tank air
Grafik
respon water level sensor
14.Vibration
Sensor
Sensor getar SW-420 merupakan salah satu jenis sensor
yang dirancang untuk mendeteksi getaran atau guncangan pada permukaan tempat
sensor dipasang. Sensor ini sangat cocok digunakan dalam sistem peringatan dini
bencana alam, seperti deteksi gempa kecil, longsor, atau pergerakan tanah yang
dapat menjadi pemicu banjir bandang.
Sensor getar SW-420 bekerja berdasarkan prinsip perubahan
posisi elemen mekanis di dalamnya. Di dalam sensor terdapat pegas dan silinder
logam yang akan bergerak apabila terjadi getaran. Ketika sensor mengalami
getaran melebihi ambang batas tertentu, jalur konduktif di dalam sensor akan
bersentuhan dan menghasilkan sinyal digital (HIGH atau LOW), tergantung pada
keadaan getar.
Beberapa komponen penting pada modul SW-420 meliputi:
- Sensor getar mekanik: Komponen utama yang merespons getaran fisik.
- Komparator (biasanya LM393): Digunakan untuk membandingkan tegangan dari sensor
dengan tegangan referensi. Komparator ini akan menghasilkan output digital
yang dapat dibaca mikrokontroler.
- Potensiometer: Digunakan untuk mengatur sensitivitas sensor
terhadap getaran.
- LED indikator: Menyala ketika sensor mendeteksi getaran.
- Konektor pin (OUT, GND, Vcc): Untuk menghubungkan sensor
ke sistem mikrokontroler seperti Arduino.
Sensor ini biasanya dihubungkan ke sistem mikrokontroler
(seperti Arduino, ESP32, dsb.) melalui pin OUT (output
digital). Pin ini akan mengeluarkan sinyal HIGH (logika 1) ketika getaran
terdeteksi, dan LOW (logika 0) saat tidak ada getaran. Tegangan
kerja sensor umumnya 3.3V hingga 5V.
- Vibration
Sensor
Vibration Sensor adalah suatu alat yang berfungsi untuk mendeteksi adanya
getaran dan akan diubah dalam ke dalam sinyal listrik.
Grafik
Sensor Vibration :
Sensor getaran dibagi menjadi dua macam yaitu :
A. Kontak
Sensor
ini disebut juga cassing measurement. Sensor yang digunakan adalah sensor
seismic transduser, yaitu sensor yang digunakan untuk mengukur
kecepatan dan percepatan. Untuk
mengukur kecepatan menggunakan velocity probe dan velomitor probe, sedangkan
untuk mengukur percepatan menggunakan sensor acceleration probe.
a. Velocity probe
1) Pengertian
Ujung sensor ini akan bersentuhan
langsung dengan benda yang akan diukur fibrasinya, sensor ini berfungsi untuk
mengukur getaran dari suatu alat atau mesin menggunakan kecepatan sebagai
parameternya.
Adapun
konstruksinya adalah sbb :
- Massa
- Kumparan
- Pegas
- Magnet
permanen
- Damper
Connector
- Cassing
velocity probe
2)
Prinsip Kerja
Prinsip kerja velocity probe sesuai dengan
hukum fisika yaitu apabila suatu konduktor/kumparan yang dikelilingi oleh medan
magnet kemudian koduktor bergerak terhadap medan magnet atau medan magnet
bergerak terhadap konduktor maka akan menimbulkan suatu tegangan induksi pada
konduktor. Apabila transducer ini ditempatkan pada bagian mesin yang bergetar,
maka tranduser inipun akan ikut bergetar, sehingga kumparan yang ada di
dalamnya akan bergerak relatif terhadap medan magnet sehingga akan menghasilkan
tegangan listrik pada ujung kawat kumparannya. Dengan mengolah sinyal listrik
dan transdusernya, maka getaran dapat diukur.
b. Acceleration Probe
1) Pengertian
Termasuk sensor kontak yang berfungsi
untuk mengukur getaran dengan mengukur kecepatan dari mesin tersebut
2) Prinsip kerja
Pada acceleration probe terdapat Case insulator yang
berkontak langsung dengan mesin yang hendak diperiksa, Case Insulator ini
berfungsi sebagai transmitter atau yang menstransmisikan getaran dari mesin
menuju piezoelectric sehingga piezoelectric mengalami tekanan yang sebanding
dengan getaran yang diterima dari mesin. Getaran mekanis yang menimbulkan gaya
akan mengenai bahan piezoelectric tersebut sehingga bahan piezoelectric
tersebut menghasilkan muatan listrik. Tetapi arus listrik yang dihasilkan oleh
piezoelectric ini sangat kecil, sehingga diperlukan alat lain agar menghasilkan
muatan listrik yang standard. Karena muatan listrik yang ditimbulkan oleh
piezoelectrik sangat kecil maka didalamnya dipasang rangkaian
electronik/amplifier yang dapat membangkitkan muatan agar muatan listrik yang
dihasilkan oleh bahan piezoelectric menjadi lebih besar. Besar muatan listrik
yang dihasilkan oleh bahan piezo electric sebesar picocoulombs per g. Sedangkan
besarnya sinyal yang dihasilkan setelah didalamnya dipasang penguat, mempunyai
sensitivitas 50 mv per g.
3)
Kelebihan
- Ukuran sangat kecil dan ringan, sehingga cocok untuk
dibawa kemana-mana dan bisa dibawa ke tempat kerja yang sempit
- Sangat sensitive terhadap frekuensi tinggi, karena
accelerator probe memiliki range frekuensi yang tinggi sebesar lebih dari
20 KHz
- Dapat digunakan pada temperatur tinggi, yaitu sampai
temperature kurang lebih 500 derajat C
- Harganya
lebih murah dibanding velocity dan displacement probe
B.
Non – Kontak
Sensor
non-kontak biasanya disebut Shaft Relative Measurement. Sensor yang digunakan
adalah proximity probe (Eddy current probe). Untuk proxymity probe, yang diukur
adalah perpindahannya. Untuk sensor non-kontak, probe dan mesin atau media
tidak bersentuhan langsung. Untuk menggunakan sensor proximity probe ada
beberapa syarat yang harus terpenuhi agar dapat menghasilkan pengukuran yang
presisi, diantaranya adalah
- Roundness
(kelingkaran) dari mesin yang akan diukur harus bagus untuk menghasilan
bacaan yang bagus pula
- Run out
Spesifikasi
sensor getar :
15.Rain
Sensor
Rain sensor atau sensor hujan adalah perangkat elektronik
yang digunakan untuk mendeteksi keberadaan air hujan di lingkungan sekitar.
Sensor ini bekerja dengan prinsip perubahan konduktivitas atau resistansi
akibat kehadiran air pada permukaan sensor.
Rain sensor umumnya terdiri dari dua bagian utama:
- Modul sensor pendeteksi air hujan, biasanya berupa papan
dengan jalur konduktif terbuka (seperti grid logam).
- Modul kontrol (driver board) yang mengolah sinyal
dari sensor dan menghasilkan output digital maupun analog.
Cara
kerjanya:
- Saat permukaan sensor terkena air hujan, air
bertindak sebagai penghantar yang menghubungkan jalur konduktif pada
sensor.
- Terjadinya konduksi ini menyebabkan penurunan
resistansi dan perubahan tegangan.
- Perubahan ini diolah oleh komparator pada
driver board dan diterjemahkan menjadi sinyal digital (HIGH/LOW) atau analog
(0–5 V).
- Sinyal ini dapat digunakan untuk mengaktifkan
aktuator seperti buzzer, relay, LED, atau sistem kendali lainnya.
- Digital Output: Menunjukkan keadaan "hujan/tidak
hujan" (biasanya LOW saat hujan terdeteksi).
- Analog
Output: Memberikan tegangan
proporsional terhadap banyaknya air pada sensor.
Rain sensor berfungsi untuk mendeteksi kebocoran dari
tank air.
Konfigurasi
pin rain sensor
Spesifikasi rain sensor
1. Konsumsi daya sangat sedikit
2. Sensor ini bermaterial dari FR-04 dengan dimensi 5cm x
4cm berlapis nikel dan dengan kualitas tinggi pada kedua sisinya
3. Pada lapisan module mempunyai sifat anti oksidasi
sehingga tahan terhadap korosi
4. Tegangan kerja masukan sensor 3.3V – 5V
5. Menggunakan IC comparator LM393 yang stabil
6. Output dari modul comparator dengan kualitas sinyal
bagus lebih dari 15mA
7. Dilengkapi lubang baut untuk instalasi dengan modul
lainnya
8. Terdapat potensiometer yang berfungsi untuk mengatur
sensitifitas sensor
9. Terdapat 2 Output yaitu digital (0 dan 1) dan analog
(tegangan)
10. Dimensi PCB yaitu 3.2 cm x 1.4 cm
Grafik
respon rain sensor
5. Percobaan [kembali]
1. Buka dan Siapkan Project
- Buka Proteus (ISIS).
- Buat project baru dan buka
mode Schematic Capture.
- Siapkan area kerja.
2. Ambil dan Tempatkan
Komponen Utama
- Sensor-Sensor:
- Rain Sensor (YL-83) – untuk mendeteksi
hujan.
- Water Level Sensor – untuk tinggi air.
- Infrared
Sensor – mendeteksi halangan atau benda terapung.
- Vibration
Sensor – mendeteksi getaran tanah atau aliran deras.
- Ultrasonic Sensor (jarak) – sebagai
pengukur ketinggian permukaan air dari sensor.
- Penguat dan Transistor:
- Op-Amp
IC (LM358) – digunakan untuk menguatkan sinyal sensor.
- Transistor
NPN/PNP – untuk pengendalian aktuator atau output.
- Output:
- LED – sebagai indikator level bahaya.
- Motor
atau relay – untuk mengontrol pintu bendungan otomatis.
- Buzzer – untuk peringatan banjir.
3. Rancang Sirkuit Tiap Sensor
- Rain Sensor:
- Hubungkan YL-83 ke
pembagi tegangan dan ke basis transistor.
- Tambahkan
indikator LED untuk mendeteksi saat hujan turun.
- Water Level Sensor:
- Gunakan sensor level (atau pelampung simulasi).
- Output sensor dihubungkan ke penguat (Op-Amp).
- Hasilnya mengontrol LED atau transistor untuk
membuka pintu air jika level tinggi.
- Infrared Sensor:
- Output
IR sensor masuk ke komparator.
- Digunakan
untuk mendeteksi objek tersangkut atau terbawa air.
- Vibration Sensor:
- Sinyal masuk ke amplifier (Op-Amp) untuk
menguatkan sinyal.
- Output-nya
dikondisikan untuk mendeteksi getaran tinggi.
- Sensor Jarak (Ultrasonic):
- Dipasang di atas bendungan.
- Outputnya menunjukkan ketinggian air, digunakan
untuk membuka pintu bendungan otomatis saat nilai ambang terlampaui.
4. Koneksi Transistor dan
Output
- Gunakan NPN dan PNP transistor sebagai
switch untuk:
- Mengaktifkan buzzer.
- Menyalakan
LED indikator status (hijau, kuning, merah).
- Mengontrol
gerakan motor pintu bendungan.
5. Hubungkan Sumber Daya
- Sambungkan
semua sensor dan komponen ke VCC (5V) dan Ground.
- Gunakan sumber daya dari virtual terminal atau
baterai virtual.
6. Tambahkan Gambar/Simbol
Tambahan
- (Opsional)
Tambahkan gambar bendungan dan sensor seperti pada desain
untuk memperjelas dokumentasi.
7. Simulasi
- Klik tombol Run Simulation.
- Lakukan simulasi skenario banjir:
- Simulasikan hujan → rain sensor aktif.
- Simulasikan kenaikan air → water level sensor
aktif.
- Getaran → vibration sensor aktif.
- Objek terbawa air → IR sensor aktif.
- Jarak
air mendekati ambang → ultrasonic aktif.
- Amati LED, buzzer, dan pintu bendungan (motor) bekerja otomatis sesuai logika.
b. Rangkaian Simulasi dan Prinsip Kerja
Prinsip Kerja:
1. Sensor Rain (Sensor Hujan)
- Mendeteksi
keberadaan air hujan yang mengenai permukaan sensor.
- Saat
terkena hujan, tegangan output turun → transistor aktif.
- Menyebabkan
indikator LED menyala dan memicu sistem untuk bersiap banjir.
2. Sensor Water Level (Tinggi
Permukaan Air)
- Mendeteksi
ketinggian air menggunakan probe atau pelampung (bisa juga dengan
ultrasonik).
- Saat air menyentuh titik batas:
- Output sensor memicu Op-Amp komparator.
- Hasilnya
digunakan untuk menyalakan indikator (LED) dan sistem buka pintu
bendungan.
3. Sensor Infrared (IR)
- Mendeteksi benda yang terbawa arus atau menyumbat
aliran air.
- Jika terdeteksi objek:
- Output IR akan tinggi.
- Memicu non-inverting amplifier untuk
memperkuat sinyal.
- Mengaktifkan
kontrol transistor → membuka pintu bendungan sebagai respon.
4. Sensor Vibration (Getaran)
- Mendeteksi
getaran tanah yang menandakan aliran air besar atau longsor.
- Sinyal getaran diperkuat oleh non-inverting
amplifier (Op-Amp).
- Output dari amplifier mengaktifkan transistor
untuk memicu LED/warning dan sistem mekanik pintu.
5. Sensor Jarak (Ultrasonik)
- Mengukur
jarak antara sensor ke permukaan air (biasanya dipasang di atas
bendungan).
- Jika
jarak terlalu pendek (air naik), maka:
- Sensor
memberikan sinyal ke komparator.
- Komparator
mengaktifkan rangkaian pengendali pintu otomatis dan
alarm.
6. Sistem Pintu Bendungan
- Terdiri
dari beberapa motor atau aktuator yang dikendalikan
transistor.
- Transistor NPN
dan PNP bekerja sebagai saklar untuk membuka dan menutup pintu
air.
- Sistem
ini diaktifkan oleh sinyal dari sensor (satu atau kombinasi beberapa
sensor).
7. Indikator dan Alarm
- LED Hijau = kondisi aman (semua sensor normal).
- LED Kuning = kondisi siaga (rain sensor dan water
level aktif sebagian).
- LED Merah dan Buzzer = kondisi darurat
(banyak sensor aktif, banjir potensial).
- Semua LED
dan buzzer dikendalikan berdasarkan logika level ancaman dari sensor.
Prinsip kerja :
Ketika air sungai meluap maka
sensor rain akan aktif di tandai dengan tespin berlogika satu maka sensor akan
mengeluarkan tegangan sebesar 5 V yang nantinya akan di umpatkan kepada kaki
non inverting dari rangkaian Voltage Flower.Prinsip kerja dari voltage flower
di karenakan Ed = 0 nantinya akan menyebabkan Vin = Vout sehingga nilai
ACL = Vin /Vout = 1 yang nantinya sensor tersebut akan mengeluarkan tegangan
ouput sebesar 5 v.Tegangan 5 V nsntinya akan di umpan ke resistor 14 sehingga
akan mengalir akur dari bias ,emiter dari transitor self bias. Dikarenakan ada
arus yang mengalir pada kaki Vbe maka dapat di ukur tegangan Vbe > 0.7 V
yang nantinya akan akan membuat transitor akan aktif sehingga arus mengalir ke
relay ,colector , emiter dan ground . Di karenakan ada arus yang mengalir pada
relay akan menyebabkan swich berpindah dari kanan ke kiri.di karenakan ada arus
yang mengalir akan membuat relay berpindah dari kiri ke kanan yang nantinya
akan membuat rangkaian tertutup pada rangkaian motor dan mengaktifkan motor DC
sehingga pintu bendungan akan terbuka.
Ketika lebar sungai bertambah maka
sensor infrared akan aktif di tandai dengan tespin berlogika satu maka
sensor akan mengeluarkan tegangan sebesar 5 V yang nantinya akan di umpatkan
kepada kaki non inverting dari rangkaian Diferential Amplifier.Prinsip kerja
dari diferential amplifier adalah Vo = Vo non inverting amplifwer - inverting
amplifier yang nantinya hasil dari ouput rangkaian tersebut bernilai 6.5 V yang
nantinya akan di umpankan pada resisitor 25 yang nanti akun mengalir arus dari
kaki base ke resistor 46 yang di lanjutkan ke ground dikarenakan besar tegangan
Vbe > 0.7 v nanti akan menyebabkan transitor dari voltage diveder bias
sehingga arus nantinya akan mengalie dari ke relay lalu ke kaki colektor yang
kemudian ke kaki emiter dan resistor 46 lalu ke ground.di karenakan ada arus
yang mengalir akan membuat relay berpindah dari kiri ke kanan yang nantinya
akan membuat rangkaian tertutup pada rangkaian motor dan mengaktifkan motor DC
sehingga pintu bendungan akan terbuka.
Ketika terjadi banjir maka sensor
water level akan aktif di mana batas dari aktifnya sensor ini ketika besar dari
80 maka sensor akan aktif sehingga sensor akan mengeluarkan tegangan sebesar 4
V yang nantinya akan di umpan kan ke kaki inverting amplifer rangkaian
komparator inverting di mana prinsip kerja dari rangkaian tersebut adalah
ketika nilai Vut lebih besar dari nilai Vin nanti akan menyebakan nilainya
menjadi minus ata V- Saturasi di mana tegangan Vout -10V nantinya akan akan di
umpan kan ke resistor 7 yang nanti arus akan mengalir di karenakan transitor
PNP self bias di mana transistor akan aktif ketika nilai Vbe -0.7 V yang
nantinya akan membuat power supplay aktif sehingga arus akan mengalir dari
relay ke emeter lalu ke groud di karenakan ada arus yang mengalir akan membuat
relay berpindah dari kiri ke kanan yang nantinya akan membuat rangkaian
tertutup pada rangkaian motor dan mengaktifkan motor DC sehingga pintu
bendungan akan terbuka.
6. Download File [kembali]
- Download Rangkaian Proteus : Klik
disini
- Download Datasheet Transistor 2n222 : Klik disini
- Download Datasheet LM35 klik disini
- Download Datasheet Baterai klik
disini
- Download Datasheet Resistor : Klik
disini
- Download Datasheet Relay : Klik
disini
- Download Datasheet Transisitor NPN : klik
disini
- Download Datasheet Transisitor PNP : klik
disini
- Download Datasheet Op Amp klik disini
- Download Datasheet Motor : Klik
disini
- Download Datasheet Voltmeter : Klik
disini
- Download Datasheet dioda : Klik
disini
- Download Datasheet buzzer : Klik
disini
- Download Datasheet OP AMP 741 : Klik
disini
- Download Datasheet
DC Motor : Klik disini
- Download Datasheet buzzer : Klik
disini
- Download Datasheet touch sensor : klik
disini
- Download LIBRARY Touch Sensor : Klik
disini
- Download Datasheet Rain Sensor : Klik
disini
- Download LIBRARY Rain Sensor : Klik
disini
- Download Library GPD120 Sensor : Klik
disini
- Download
Datasheet GPD120 sensor : Klik disini
- Download Datasheet LDR : Klik
disini
- Download Library PIR Sensor : Klik
disini
- Download Datasheet PIR Sensor : Klik
disini
- Download Library LM35: Klik
disini
- Download Datasheet LM35 : Klik
disini
- Download Video Penjelasan Sensor UV : Klik
disini
- Download
Video Penjelasan Sensor Hujan : Klik disini
- Download
Video Penjelasan Sensor LDR : Klik disini
- Download
Video Penjelasan Sensor PIR : Klik disini
- Download
Video Penjelasan Sensor Sentuh : Klik disini
- Download Video Penjelasan Sensor Suhu : Klik
disini
Komentar
Posting Komentar